Bishop Dikson Panjaitan, M.Div.: “Kami sangat menikmati pelayanan ini karena kami berinteraksi langsung dengan mereka.”
**DELI SERDANG, SUMATERA UTARA** — Ada kebahagiaan yang tidak selalu dapat diukur dengan materi. Ada sukacita yang lahir ketika seseorang bersedia hadir, mendengarkan cerita, menggenggam tangan, dan menemani mereka yang sering kali merasa kesepian di usia senja.
Semangat itulah yang mewarnai perjalanan pelayanan lansia yang kini dikenal dengan nama **Rumah Harapan **, sebuah pelayanan sosial yang berlokasi di Jalan Ujung Serdang, Gang Seminari, seberang SD Negeri, Deli Serdang, Sumatera Utara.
Pelayanan ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak 2019, masyarakat mengenalnya dengan nama **TAMAN LANTERA**, singkatan dari *Taman Lansia Sejahtera*. Setelah berjalan selama kurang lebih tujuh tahun, pelayanan tersebut kini memasuki babak baru dengan nama Rumah Harapan.
Dalam wawancara khusus dengan *Tabloid Rohani RHEMA*, Bishop Dikson Panjaitan, M.Div., Ketua Sinode Gereja Laskar Kristus Indonesia (GLKRI) sekaligus pembina Rumah Harapan, menjelaskan bahwa perubahan nama tersebut merupakan bagian dari pengembangan identitas pelayanan, tanpa melupakan sejarah dan perjalanan yang telah dibangun sejak awal.
Bagi Bishop Dikson, pelayanan kepada para lansia bukan sekadar kegiatan sosial. Pelayanan ini merupakan kesempatan untuk menghadirkan kasih secara nyata melalui perjumpaan dan hubungan antarmanusia.
Menikmati Pelayanan Melalui Interaksi Langsung
Ketika ditanya mengenai pengalaman melayani para lansia, Bishop Dikson mengungkapkan bahwa salah satu hal yang paling memberikan sukacita adalah kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan mereka.
“Kami sangat menikmati pelayanan ini karena kami berinteraksi langsung dengan mereka,” ungkapnya.
Kalimat sederhana tersebut menggambarkan kedekatan yang menjadi bagian penting dari pelayanan Rumah Harapan.
Menurut semangat pelayanan yang dibangun di tempat ini, para lansia tidak boleh dipandang semata-mata sebagai kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki kisah kehidupan, pengalaman, perasaan, dan martabat yang patut dihormati.
Melalui interaksi langsung, para pelayan dan relawan dapat mengenal mereka lebih dekat, mendengarkan cerita mereka, berbagi tawa, serta menemani mereka dalam berbagai kegiatan sehari-hari.
Terkadang, perhatian sederhana dapat memberikan makna yang besar. Sapaan yang hangat, kesempatan untuk berbicara, doa bersama, atau kehadiran seseorang yang bersedia mendengarkan dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak dilupakan.
Di situlah pelayanan ini menemukan maknanya: bukan hanya memberi bantuan, tetapi juga membangun hubungan dan menghadirkan rasa kebersamaan.
Melayani 76 Lansia dengan Berbagai Kegiatan
Saat ini, Rumah Harapan melayani sekitar **76 orang lansia** dengan keadaan dan kebutuhan yang beragam.
Sebagian lansia datang untuk mengikuti kegiatan pada siang hari dan kemudian diantar kembali. Sebagian lainnya tinggal menetap di kompleks pelayanan karena membutuhkan dukungan dan pendampingan lebih lanjut.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, berbagai kegiatan dilaksanakan guna menciptakan suasana yang hangat, aktif, dan penuh kebersamaan.
Kegiatan rohani menjadi salah satu bagian penting, meliputi bernyanyi, berdoa bersama, dan mendengarkan firman Tuhan. Kegiatan ini memberikan ruang bagi para lansia untuk membangun persekutuan dan memperoleh penguatan rohani.
Selain itu, terdapat kegiatan senam lansia, permainan, rekreasi, serta kegiatan jus buah dan sayuran sebagai bagian dari pembiasaan gaya hidup sehat.
Bagi para lansia yang menyukai kegiatan luar ruang, tersedia pula kesempatan untuk berkebun dan memelihara ternak secara sukarela, sesuai minat, kemampuan, dan kondisi masing-masing. Kegiatan tersebut bukan kewajiban, melainkan pilihan bagi mereka yang ingin tetap aktif.
Pelayanan sehari-hari didukung oleh para relawan yang bergantian menjalankan tugas. Layanan antar-jemput juga membantu sebagian lansia agar dapat mengikuti kegiatan dengan lebih mudah.
Berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan lansia dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, tetapi tetap bermakna: menyediakan ruang untuk beraktivitas, bersosialisasi, beribadah, dan menikmati kebersamaan.
Mengapa Nama TAMAN LANTERA Berubah Menjadi Rumah Harapan?
Salah satu hal penting yang dibahas dalam wawancara ini adalah perubahan nama pelayanan dari TAMAN LANTERA menjadi Rumah Harapan.
Bishop Dikson menjelaskan bahwa nama baru tersebut diharapkan dapat menggambarkan cakupan pelayanan yang lebih luas.
Nama TAMAN LANTERA telah menjadi bagian dari sejarah sejak pelayanan dimulai pada 2019. Karena itu, perubahan nama tidak dimaksudkan untuk menghapus identitas lama, melainkan melanjutkan perjalanan yang sudah dibangun.
Nama Rumah Harapan dipilih karena menghadirkan gambaran tentang sebuah rumah: tempat seseorang dapat merasa diterima, diperhatikan, memiliki teman, dan menjalani kehidupan dengan harapan.
Kata *rumah* mengandung makna kehangatan dan rasa memiliki. Sementara itu, *harapan* menyampaikan pesan bahwa masa tua tetap memiliki nilai dan kesempatan untuk menikmati kehidupan.
Nama ini juga lebih sesuai dengan kenyataan bahwa pelayanan tidak hanya ditujukan kepada lansia yang datang pada siang hari, tetapi juga mencakup sebagian lansia yang tinggal menetap di kompleks pelayanan.
Dengan demikian, **TAMAN LANTERA tetap menjadi bagian penting dari sejarah pelayanan, sedangkan Rumah Harapan menjadi identitas baru untuk melanjutkan dan mengembangkan pelayanan tersebut.**
### Bukan Hanya Bangunan, tetapi Tempat untuk Merasa Dihargai
Rumah Harapan berupaya membangun lingkungan yang memperhatikan kebutuhan jasmani, sosial, emosional, dan rohani para lansia sesuai kemampuan serta sumber daya yang tersedia.
Bagi lansia yang tinggal menetap, kebutuhan mereka tidak berhenti pada kegiatan harian. Mereka juga memerlukan lingkungan yang aman, pendampingan, perhatian, dan hubungan sosial yang mendukung kehidupan sehari-hari.
Sementara bagi mereka yang datang mengikuti kegiatan, tempat ini menjadi ruang untuk bertemu teman, melakukan aktivitas, beribadah, dan mengisi waktu dengan kegiatan yang bermakna.
Di sinilah makna rumah menjadi penting. Rumah bukan hanya soal dinding, atap, atau bangunan fisik, tetapi juga tentang suasana yang membuat seseorang merasa diterima dan dihargai.
Perjalanan pelayanan ini pun menjadi pengingat bahwa perhatian kepada orang lanjut usia tidak seharusnya berhenti pada pemberian bantuan material. Waktu, kesediaan untuk mendengarkan, serta sikap menghormati mereka juga merupakan bagian penting dari pelayanan.
Mengembangkan Fasilitas, Memperluas Kepedulian
Seiring berjalannya pelayanan, kebutuhan akan fasilitas yang lebih memadai menjadi salah satu perhatian Rumah Harapan.
Kompleks pelayanan yang berdiri di atas lahan sekitar 2.000 meter persegi masih membutuhkan pengembangan. Dua ruangan tambahan berukuran kurang lebih 3 × 4 meter masing-masing masih dalam tahap pembangunan dan memerlukan penyelesaian. Halaman juga membutuhkan penataan agar lebih nyaman dan aman digunakan.
Pengembangan fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung kegiatan pelayanan serta meningkatkan kenyamanan para lansia, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam bergerak.
Untuk mewujudkan kebutuhan tersebut, dukungan masyarakat, relawan, gereja, dan para donatur sangat berarti.
Partisipasi tidak harus selalu berupa sumbangan besar. Masyarakat dapat turut ambil bagian melalui tenaga, waktu, perhatian, bantuan kebutuhan harian, maupun dukungan terhadap perbaikan fasilitas.
Semangatnya adalah membuka kesempatan bagi semakin banyak orang untuk mengambil bagian dalam pelayanan kemanusiaan ini.
Rumah Harapan diselenggarakan oleh **Yayasan Rhema Hidup Indonesia**, dengan pembinaan dari **Sinode Gereja Laskar Kristus Indonesia (GLKRI)**. Kehadiran pelayanan ini memperlihatkan bagaimana kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui kerja bersama, komitmen, dan perhatian terhadap kebutuhan sesama.
Kasih yang Dihadirkan, Harapan yang Diteruskan
Perjalanan dari TAMAN LANTERA menuju Rumah Harapan Senja membawa pesan yang sederhana, tetapi mendalam: usia boleh bertambah dan kekuatan fisik dapat berkurang, tetapi nilai serta martabat seseorang tidak pernah hilang.
Bagi para lansia, kehidupan tetap dapat diisi dengan persahabatan, kegiatan, doa, tawa, dan pengalaman kebersamaan. Bagi para relawan, pelayanan ini menjadi kesempatan untuk belajar tentang kesabaran, ketulusan, dan arti hadir bagi sesama.
Rumah Harapan diharapkan terus berkembang menjadi tempat yang tidak hanya memberikan pelayanan, tetapi juga membangun suasana kekeluargaan dan menghadirkan harapan bagi mereka yang memasuki masa senja kehidupan.
Sebagaimana tersirat dalam namanya, harapan itu bukan hanya ditujukan kepada para lansia. Harapan itu juga menjadi panggilan bagi masyarakat untuk kembali melihat, memperhatikan, dan menghargai kehidupan orang-orang yang telah melewati perjalanan panjang.
Sebab pada akhirnya, ukuran pelayanan bukan hanya seberapa banyak yang diberikan, tetapi juga seberapa tulus seseorang bersedia hadir bagi orang lain.
Rumah Harapan.
*Melanjutkan pelayanan TAMAN LANTERA sejak 2019.*
“Menghargai Kehidupan, Menghadirkan Kasih, Menumbuhkan Harapan.”
Narasumber:** Bishop Dikson Panjaitan, M.Div.
Ketua Sinode Gereja Laskar Kristus Indonesia (GLKRI) dan Pembina Rumah Harapan Senja.
Media:** Tabloid Rohani RHEMA
**Reporter:** Kevin





Tinggalkan Balasan